BLOGGER TEMPLATES AND TWITTER BACKGROUNDS
Whenever you knock me down, i will not stay on the ground (Justin Bieber-Never Say Never)
Showing posts with label Curhat. Show all posts
Showing posts with label Curhat. Show all posts

Monday, January 23, 2012

Labil-labilitas

Selama ini, aku selalu bingung, kenapa aku sedih, kenapa aku tidak bahagia, kenapa aku sering merasa punya masalah namun tak pernah bisa menemukannya? Aku terus mencari dan mencari, apa masalahku sebenarnya. Apa yang aku khawatirkan? Apa yang aku takutkan? Dan kini aku menemukannya. Aku menemukan bahwa masalahku yang sesungguhnya adalah ketidaklancaran komunikasi antara aku dan kedua orang tuaku.


Bagaimana bisa komunikasi di antara kami lancar? Orang tuaku itu selalu menganggap dirinyalah yang paling benar. Mereka tidak pernah mau mendengarkan pemikiran anak-anaknya. Mereka selalu berpatokan bahwa pendidikan yang mereka dapatkan dari orang tua mereka PADA JAMAN DAHULU: kekerasan dapat menghentikan anak. Ketika jaman sudah berubah, mereka tetap memakai cara itu. Beruntung aku masuk UGM dan tinggal jauh dari mereka di Jogja sehingga aku SEMPAT MERASAKAN KEBEBASAN. Aku heran kenapa Dwi bisa nggak sakit jiwa tinggal satu rumah bersama mereka.

Parahnya, aku merasa begitu menyesal telah menjadi anak baik, menuruti mereka sejak kecil, mengiyakan apapun yang mereka perintahkan. Hingga masa kecilku kurang bahagia. Aku nggak boleh ini, nggak boleh itu, minta uang buat main kesini nggak dikasih, main kesitu nggak dikasih, sementara teman-temanku begitu bahagia bermain di luar sana. Soal pemikiran pun aku terkekang. Ingat saat masa-masa awal aku memutuskan berjilbab dulu, ibuku adalah orang yang paling menentang. Wanita itu selalu berucap, "jangan fanatik sekalilah pake pake jilbab... bla bla bla..." Bahkan aku dituduh diajak ikut NII lho sama dia. Astagaaa. Dan kalian salah banget kalo menyangka bahwa itu adalah kata-kata paling kasar yang ia keluarkan, masih banyak kata-kata yang lebih kasar daripada itu. Untung saja saat itu masih ada bapak yang dukung aku.

Saat aku berteriak ketakutan melihat kecoa terbang, ibu justru meneriaki dan memakiku habis-habisan, bukannya melindungi dan menenangkan aku. H min 1 wisuda SMA-ku dulu, kalau ibu-ibu lain membelanjakan anaknya baju dan sepatu yang bagus, maka ibuku sibuk memusuhiku karena aku lupa menyapu rumah. Alhasil, dandananku adalah yang terburuk di antara semua teman-temanku. Wanita itu tak akan pernah tahu bahwa hari itu begitu penting bagiku. Ketika aku belajar menulis novel dulu, ibulah yang paling sering mengejekku dan mengatakan bahwa aku tak mungkin berhasil. Ketika aku melakukan sedikit kesalahan dalam menyapu rumah atau mencuci piring, maka ibuku akan mengatai aku bodoh, lantas dilanjutkan dengan omelan panjang, dan diakhiri dengan "aku menyesal telah melahirkan kamu". Padahal tak sekali pun aku pernah membantahnya saat itu. Aku, sangat tidak bahagia memiliki ibu yang seperti ini. Oleh karena itu, tidak heran jika aku lebih dekat dengan ayah daripada dengan ibu. Namun, ayah pun pada akhirnya pasti terpengaruh oleh ibu. Lalu mereka bersama-sama menentang kami, anak-anaknya.

Bukannya kami tidak pernah mencoba mengutarakan maksud kami. Pernah, bahkan sering. Namun, baru kami mengucap sepatah kata, belum sempat menyelesaikan satu kalimat, kami sudah disela, omongan kami disela dengan makian dan kemarahan mereka. Oh, Tuhan, terima kasih karena tidak membuat kami sakit jiwa selama ini.

Kami ini, dua anak yang pemikirannya nggak pernah didengar orang tua kami. Kami sudah terbiasa mendengar kata-kata kasar dari orang tua kami. Kami terlalu sering dicekoki untaian kalimat negatif dari orang tua kami. Tapi Dwi lebih beruntung karena wataknya keras sehingga dapat dengan mudah menaklukkan bapak dan ibu, sedangkan aku, aku tidak bisa sekasar itu memperlakukan orang tua, walaupun pada akhirnya aku yang sakit hati.

Maafkan aku ya ibu dan bapak karena nggak puas terhadap cara kalian mendidik kami. Kalian sudah sangat baik sebagai orang tua secara official. Tapi, kelembutan kasih sayang dan kemauan kalian untuk mendengarkan kami sesungguhnya lebih kami butuhkan daripada setumpuk uang dan makanan. Sadarlah bahwa kami sudah dewasa, kami tahu betul jalan mana yang harus kami tempuh. Dan maaf kalau setelah ini aku akan menyembunyikan lebih banyak hal lagi dari kalian. Kesabaranku sudah mencapai batas terdalam dan tak mungkin ditoleransi lagi. Aku tidak mau lagi mendengar kemarahan kalian. Maaf, karena aku rasa aku juga punya hak untuk bahagia. Berharap dapat mengatakan hal ini secara langsung pada kalian, namun sepertinya tidak mungkin, sangat tidak mungkin.

Monday, August 1, 2011

PKM? Nggak lagi deh, makasih

Aku sedang libur, tapi kayak nggak libur. Tiap hari aku dihantui SMS Ellsya soal PKMP. Ada aja pertanyaannya. Proposalnya udah dikirim apa belom lah. Yang bisa ikut workshop dari kelompokku siapa lah. Suruh konsultasi sama mbak Kiki lah. Padahal, sesuai kesepakatan, tanggal 30 Juli adalah hari terakhir ngurusin PKM dan selebihnya libur puasa. Yeah, mungkin aku kekanak-kanakan. Ini kan emang tanggung jawabku sebagai salah satu anggota Profetik: ikut PKM. Aku nggak seharusnya mengeluh.

Sempat terpikir olehku untuk mengundurkan diri dari PKMP kali ini. Tapi ya gimana, aku ketuanya sih. Masa ketuanya kabur? Anak buahnya gimana nanti?

Aku juga sempat berpikir untuk ngerjain PKMP ini seadanya aja, artinya, nggak usah serius-serius amat. Tapi aku berpikir lagi. Di kelompokku ini, ada adik angkatanku, Muhaya dan Wahyu. Kamu pikir apa tujuan mereka ikut PKMP? Tentu saja untuk mencari pengalaman melakukan penelitian. Kalo aku nggak serius, proposal PKMP kami nggak akan bisa lolos kualifikasi dan nggak akan didanai oleh Dikti untuk melakukan penelitian. Itu artinya aku mengorbankan adik angkatanku karena membuat mereka menjadi tidak mendapat pengalaman baru ikut penelitian. Oke, jadi intinya, untuk PKMP kali ini, aku akan kerjakan dengan serius, aku janji. Tapi ngerjainnya nanti, abis lebaran. Soalnya ada satu misi yang JAUH LEBIH PENTING yang mau aku kerjain selama Ramadhan ini.

Masalah lainnya adalah Hibah Penelitian. Ini lomba juga, sejenis PKMP. Tapi yang ini udah lolos dan udah dapat dana untuk penelitian. Penelitiannya pun sudah berjalan 10%. Nah, rencananya, teman-teman sekelompokku yang sangat bersemangat itu mau ngerjain penelitian Hibah ini nanti, pertengahan bulan Ramadhan. Sialan banget kan. Dia pikir beli tiket bisa pake daun apa?! Untuk masalah ini, sempat pula terpikir untuk mengundurkan diri. Tapi gimana ya, udah setengah jalan sih. Kalo aku mengundurkan diri, itu berarti tiap Dikti melakukan monitoring, kelompok Hibah ini nggak akan lengkap personilnya. Itu mengurangi nilai. Dan itu artinya aku mengorbankan teman-teman sekelompok Hibahku.

Well, aku benar-benar nggak boleh kekanak-kanakan. Aku mau berhenti, tapi nggak mau mengorbankan siapapun. Kalau ada orang yang aku korbankan, lebih baik aku nggak jadi berhenti dan melanjutkan saja sampai selesai.

Untuk ke depannya, aku nggak akan mau ikut PKM lagi. Toh pengalaman PKM ku juga udah banyak. PKM-GT dan PKMP ku udah pernah lolos dan didanai kok, masing-masing sekali. Dan itu menurut aku udah cukup sebagai pengalaman. Pengalaman kan nggak harus diulang-ulang. Itung-itung, kasih kesempatan lah ke yang lain. Aku ingin cari pengalaman di bidang lain, misal: menjadi guru privat di suatu lembaga bimbel. Aku juga nggak mau ikut Hibah Penelitian lagi ah. Kan udah pernah keterima tuh, udah cukup itu. Stop PKM, Hibah, dan sejenisnya! Cari ladang baru! Yeah!

Monday, July 18, 2011

Kasih Sayang yang Tanpa Ekspresi

Kalau kebanyakan orang ketika masih kecil sangat menggemaskan hingga selalu digendong oleh orang tuanya, maka aku tidak. Sejak umur dua tahun lebih aku sudah tidak pernah lagi digendong. Bahkan pembantuku saja tidak mau menggendongku. Aku hanya digandeng, berjalan kaki. Itu saja, tidak lebih.
Kalau kebanyakan orang diantar oleh ibunya di hari pertamanya masuk sekolah, maka aku tidak. Yang mengantarku ke sekolah di hari pertamaku bersekolah adalah kak Imah, pembantuku. Itu pun perhatiannya terbagi antara mengawasiku dengan menidurkan Dwi yang ada di gendongannya. Dimana ibuku? Bekerja.
Kalau kebanyakan orang setiap pulang sekolah selalu ditanyai tentang apa saja yang terjadi di sekolah, maka aku tidak. Di malam hari, satu-satunya waktu dimana aku, ayah dan ibu berkumpul, ayah dan ibu sibuk berbincang mengenai segala hal yang terjadi di kantor, sedangkan aku menonton TV di antara mereka.
Bahkan tiap kali hari pengambilan rapot tiba, selalu saja hampir tidak ada yang mau mengambil rapotku. Ibu selalu berkata, "bapak aja yang ngambil rapot ya." Lantas ayah berkata sebaliknya. Namun aku bersyukur, pada akhirnya selalu ada yang mengambil rapotku: ibu. Walaupun kedatangannya ke sekolah selalu terlambat. Ia tak pernah begitu antusias mengambil rapotku. Bahkan ketika aku diterima di SMA favorit, dia sama sekali tak bersemangat. Yang mengurus segalanya hanya aku dan ayah. Sejujurnya aku iri saat tahu betapa antusiasnya ia mengurus kepentingan adikku untuk masuk SMA yang sama denganku beberapa waktu lalu.
Masalah uang jajan, aku nggak pernah minta macam-macam walaupun uang jajanku waktu SMP dan SMA jauh di bawah uang jajan rata-rata teman-temanku. Aku inget banget waktu SMP mau main ke bioskop cuma dikasih uang 20.000. Itu cuma bisa buat beli tiket sama ongkos. Tapi aku ngga minta lebih. Udah syukur dikasih. Untung aku ini anak yang cukup rajin menabung. Jadi bisa menambal uang 20.000 itu.
Aku nggak pernah protes. Bahkan di belakang mereka pun aku tak pernah berpikir macam-macam. Padahal, Dwi, yang menurutku sangat dimanja oleh ibu dan ayahku, pernah bilang gini, "seharusnya ibu nggak kerja. Di sekolah kan diajarinnya ayah pergi ke kantor dan ibu pergi ke pasar." Aku cukup terkejut dia ngomong gitu. Menurutku, perlakuan ayah dan ibu ke dia sangat baik, lebih dari aku. Dia masih digendong dan dipeluk-peluk bahkan saat ia sudah berumur empat tahun lebih. Ibu selalu bersemangat mengurus sekolahnya. Ayah juga selalu memberikan apa yang ia minta.
Sekarang aku kuliah di luar kota. Teman-temanku, di hari pertamanya merantau, ada keluarga yang menemani. Imel, ibunya yang nemenin. Wulan, ibunya juga yang nemenin. Hemas, yang nemeninnya rame: ayah, ibu dan ketiga adiknya. Nisa lebih rame lagi: ibu, ayah, tante, nenek. Aku? Aku sendirian di hari pertama itu. Padahal semua orang tahu kalau aku sendirian dari SMA-ku, nggak punya temen, nggak punya sodara. Awalnya aku baik-baik saja. Tapi sorenya, saat Imel dan Wulan beserta ibu mereka mengajakku berbelanja, menyadari bahwa hanya aku sendiri yang tak punya ibu, barulah aku menangis dalam hati.
Sekali-sekalinya aku dijenguk keluarga adalah saat aku masuk rumah sakit semester 2 dulu. Saat itu mungkin ibu takut aku mati makanya nyusul ke jogja. Itupun nggak lama. Beberapa jam saja setelah aku keluar dari rumah sakit, ibu langsung pulang lagi ke Jakarta. Sampai sekarang, ibu nggak pernah datang lagi. Sekarang aku udah pindah kos. Ibu nggak tau dan sepertinya nggak mau tau aku tinggal dimana sekarang. Jenguk pun nggak pernah. Mirisnya, di kos itu cuma aku satu-satunya penghuni yang nggak pernah dijenguk keluarga. Penghuni lain semuanya pernah dijenguk. Hal ini terkadang membuatku berpikir gila untuk menyakiti diriku sendiri sampai masuk rumah sakit supaya ada yang menjengukku.
Bukannya iri, oke, mungkin aku iri, pacar aku, yang notabene cowok aja, ayah dan ibunya bergantian menjenguknya beberapa kali. Saat pindahan kos, ayahnya datang membantu. Aku? Untung aja aku punya teman-teman yang baik yang mau membantu. Kalo nggak, yah, mungkin aku sudah bawa-bawa barang sendiri dan badanku tambah kecil.
Nggak cuma masalah kos-kosan, tapi masalah di stasiun juga. Kalau Lea selalu diantar ibu dan adiknya, Elsa selalu diantar ayahnya, maka aku hanya diantar bapak sesekali. Beberapa kali aku harus ke stasiun naik ojek dari rumah, nggak ada yang nganter. Bahkan pernah aku diturunin di jalan sama bapak karena macet di dekat stasiun. Kalau bapak dan ibu waktunya lagi longgar, ibu selalu males nganter aku. Selalu bapak. Dan itu pun nggak pernah sampai tuntas. Bapak selalu udah menghilang sebelum keretanya jalan, nggak kayak ibunya Lea yang masih melambaikan tangan sampai kereta itu menghilang dari pandangannya. Aku ingat Lea nanya, "lho, bapak kamu mana?" saat ibunya masih melambaikan tangan dan kereta mulai berjalan. Pernah sekali ibuku mengantar, bareng ayah juga. Tapi sama aja, nggak tuntas.
Aku nggak pernah berpikir mereka nggak sayang sama aku. Tentu saja mereka sayang. Cuma mungkin penyampaiannya ngga seperti kebanyakan orang. Dan sekarang aku seharusnya sudah terbiasa dengan jenis kasih sayang yang tanpa ekspresi ini. Tidak seharusnya aku iri sama orang lain dan tidak seharusnya pula aku mengharap mendapat jenis kasih sayang penuh ekspresi yang biasa orang lain dapatkan. Nggak boleh kekanak-kanakan. Lantas mengapa sekarang aku menangis?

Friday, July 15, 2011

Tetap Berpikir Positif :)

Huaaah, nggak nyangka semester empat telah berakhir! Berarti, sebentar lagi aku akan memasuki tahun ketiga di farmasi. Adikku jadi semakin banyak. Dulu, pas SD aku suka banget menghitung sudah berapa kelas yang ada di bawahku. Sekarang, kalau dihitung-hitung, dari TK sampe kuliah, adik kelasku sudah ada 15 kelas! Banyak amat yak. Nggak usah diitung lagi deh. Hahaha.


Soal nilai... Semester ini alhamdulillah nilai A nya banyak bangeeet :) Padahal mata kuliahnya geje semua gitu. Aku aja nggak nyangka banget nilainya A. Alhamdulillah.

Ajaibnya lagi, di mata kuliah yang paling susah (Kimia Medisinal) aku dapat B. Aku nggak nyangka bisa dapat nilai setinggi itu. Mungkin karena ini...
***
11 Juli 2011
Niken : Aku mau daftar remed kimed ah.
Aku : Emang udah pasti remed?
Niken : Kayaknya aku remed deh
Aku : Eh nggak boleh pesimis.
Niken : ...
Aku : UTS-nya kan lumayan bisa.
Niken : Iya sih
Aku : Kuis yang waktu itu juga gampang
Niken : Tapi geje ah kuisnya.
Aku : Eeeh, tapi itu lumayan membantu sih kalo aku bilang.
Niken : Iya juga sih.
***
Dan akhirnya aku dan Niken nggak remed. Awalnya aku emang sempet nggak yakin bisa lolos. Tapi aku nggak pernah diajarin untuk berprasangka buruk sama ketentuan Allah. Jadi aku usahakan untuk berpikiran positif. Aku udah belajar keras kemarin. Allah yang paling tau bagaimana usahaku dan nilai apa yang pantas untukku. Dan hasilnya, aku dan Niken nggak perlu ikut remeeeed. Yeeei :D

Intinya, jangan pernah berpikir Allah akan memberimu nilai jelek kalau kamu udah berusaha. Ngomong-ngomong soal berusaha, aku jadi inget ceritanya Azizah...
***
Tiga orang murid bertanya pada ustadznya, "Ustadz, ikhtiar itu apa sih?"
Si ustadz menjawab, "kalau kamu mau tau artinya ikhtiar, ayo kita lari sejauh yang kita bisa."
Mereka berempat pun berlari. Baru 100 meter, satu orang murid berhenti kelelahan. Dia duduk dan ngos-ngosan. Sementara itu, si ustadz dan dua murid lainnya terus berlari. Lalu, setelah jarak tempuh mencapai 500 meter, satu murid lagi berhenti kelelahan. Ia juga duduk dan sibuk mencari udara untuk bernapas. Satu murid yang tersisa terus berlari bersama si ustadz.
Setelah jarak tempuh mencapai 1 km, murid terakhir ini pun berhenti kecapaian. Namun si ustadz terus berlari. Teruuus, terus, hingga akhirnya ia berhenti dengan mata tertutup dan tubuh lunglai, pingsan.
Dibawalah si ustadz ke rumah sakit oleh ketiga muridnya. Begitu siuman, si ustadz berkata pada ketiga muridnya, "inilah yang dinamakan ikhtiar. Dilakukan terus menerus sampai benar-benar tidak bisa lagi."
***
Ada satu cerita lagi. Nilai-nilaiku mulai meningkat sejak aku mendengar kata-kata pak Satibi waktu itu. Begini ceritanya...
***
Karena beliau dosen pembimbingku, aku rutin mendatanginya setiap semester untuk memintanya menandatangani KRS-ku, begitu pula semester dua ini. Saat aku meminta tanda tangannya untuk KRS-ku, beliau melihat KHS-ku lantas berkata, "IP-mu ini masih di bawah standar anak farmasi. Anak farmasi itu IP-nya minimal 3,1."
OH MY GOD. Apa katanya? Di bawah standar? Aku yang SD dan SMP selalu masuk sepuluh besar ini dibilang di bawah standar? Aku benar-benar "tersentuh hatinya" saat itu. Tapi untungnya aku bukan tipikal orang yang akan sakit hati mendengar kata-kata kejam seperti itu. Justru terkadang aku membutuhkan kata-kata kejam seperti itu agar aku bersemangat. Karena setiap mendapatkan kata-kata kejam seperti itu, aku selalu punya semangat baru untuk membuktikan bahwa yang dikatakan oleh orang itu adalah salah, bukannya malah sakit hati dan menyimpan dendam. Hasilnya, sejak semester 3 kemarin IP-ku membaik. Pak Satibi senyum-senyum girang melihat nilaiku. Untung aku mendapat dosen pembimbing seperti beliau yaa :)
***
Tapi berpikir positif aja nggak cukup. Harus dibarengi dengan usaha. Buktinya, nilai toksikologi-ku C walaupun aku udah berpikir positif sama ketetapan Allah T.T
Ya itu karena ada materi yang belum aku baca sebelum ujian dan ternyata soal ujiannya kebanyakan berasal dari materi yang nggak aku baca itu. Ya wajar aja aku dikasih C, orang emang belum semuanya aku kuasai. Menyedihkan. Tapi nggak papalah, biar mengerti toksikologi lebih dalam lagi. Tetap berpikir positif :)

Sunday, July 3, 2011

Buat Si Akbar :D

yang, aku sedih baca blog kamu. bukannya sedih karna tulisan di blog kamu, tapi sedih karna kamu ternyata mudah sekali menyerah, bahkan sebelum melakukan usaha apapun.
bukannya aku sombong apa gimana, tapi aku mau share sedikit pengalamanku ke kamu. semoga bisa menyemangati :)

dulu, pas tes masuk SMP negeri, kamu tau aku pilih apa? SMP 216, SMP 01 dan SMP 8. ngga satupun dari ketiganya nerima aku. aku benar2 sedih waktu itu, syok. temen SD-ku ada yg masuk SMP 8, padahal dia suka nyontek sama aku. sejak itu, aku bertekad untuk masuk SMA negeri, terserah mau sejelek apa SMA nya, pokoknya aku harus buktikan pada dunia kalo aku bisa masuk SMA negeri. alhasil, kamu tau kan gimana freak nya aku waktu SMA? di otakku ngga ada yang lain selain belajar. dan aku ngga pernah sekalipun keluar dari ranking lima besar di kelas. tetep, tujuanku satu: masuk SMA negeri. sejak kelas satu, teruuuus sampe kelas 3. pas kelas 3, aku benar2 cari info selengkap-lengkap nya soal SMA negeri. belajar terus menerus sambil berdoa, sampe aku sakit2an. ibuku kasiaaan banget liat aku. aku bener2 jarang main, paling ya seminggu sekali dan itu cuma beberapa jam, sama retno palingan itu juga. lalu apa yang terjadi? aku berhasil mendapatkan apa yang aku mau. ngga cuma "SMA negeri", tapi "SMA negeri unggulan". Allah emang yang paling tau apa yang pantas untuk kita, sesuai usaha kita.

Allah tetap mengerti, bahkan tanpa menghitung waktu yang!

setelah masuk SMA, mungkin karena terlalu senang, aku jadi malas2an belajar. seperti yang aku bilang, 3 tahun di SMA, ngga pernah aku masuk sepuluh besar, satu kali pun ngga pernah. guru2 ngga ada satupun yang inget sama aku. sampe akhirnya pas kelas 3, aku sadar kalo aku harus masuk universitas negeri yang murah. soalnya orang tuaku bukan orang kaya. mereka nabung bertahun-tahun untuk biaya kuliahku. dan aku pun kuliah diirit-irit karna biaya nya dibagi dua sama adikku yang tiga tahun lagi kuliah juga.

apa yang aku lakukan? diam di tempat? oh nggaaak. aku didaftarin bimbel sama bapakku. bimbel itu yang paling murah sih sepengetahuanku. tapi aku optimis, mahal murahnya bimbel ngga akan berpengaruh sama kesuksesan. aku maksimalin bimbel itu. aku juga manfaatin itu bimbel buat cari2 info selengkap2nya tentang passing grade tiap jurusan dan segala macamnya. soalnya percuma kita belajar giat kalo ngga ngerti jalur dan ngga nyusun taktik. begitu terus. aku baru milih jurusan farmasi itu januari, sementara tesnya april. dan aku baru siap 30% saat itu. tapi aku terus cicil sampe akhir. teruuuus aja tiap hari. ngga pernah nyerah. semua orang mendukung. pernah sekali bapak meragukan aku. bilang gini, "kamu bisa? saingannya banyak lho. hati-hati." dan aku jawab dengan yakin, "untuk hal-hal penting kayak gini, aku akan perjuangkan sampai dapat." semuanya penuh rasa optimis. dan apa yang aku dapat? FAKULTAS FARMASI UGM. bukan cuma universitas negeri, tapi fakultas farmasi yang terbaik se-Indonesia yang! subhanallah.

jadi intinya, ngga ada kata "menyerah" dan "pasrah". kata "pasrah" itu hanya ada setelah kamu berusaha yang. nah, kalo kata "menyerah" itu baru dikeluarkannya setelah kamu benar2 udah sekarat tak sadarkan diri di rumah sakit gara2 kecapean berusaha yang. dengan kata lain, kata "menyerah" itu ngga boleh dikeluarkan yang! jawaban untuk pertanyaan "where do i start?" itu adalah memantapkan niat dan mohon petunjuk sama Allah. dan jangan menyerah. kalo kamu mau dapat beasiswa ke luar negeri, ya kamu harus usahakan. kamu pikir, begadang semalaman ngerjain tugas selama berbulan2 itu udah usaha keras? hello, semua orang di jurusan komputerisasi akuntansi telkom juga melakukannya mas. kalo mau lebih, ya usahanya harus lebih dari orang2. harus pake taktik yang. aku tahu kok, aku ini ngga tau sedikitpun gimana susahnya kamu disana, tapi yang aku tau, dalam persaingan, kita harus selalu lebih dari orang lain. pake taktik yang.

udah deh segitu aja, aku rasa cukup. hehe. aku bukan menggurui lho yang. aku cuma mau kasih semangat aja buat kamu. semangat! :)

Wednesday, March 9, 2011

4 Maret 2010


Wah, udah lama nih, nggak ngisi diary. Abis, aku bahkan merasa nggak punya waktu. Bahkan waktu istirahat pun minim. Ckck.

Pagi ini dimulai dengan asistensi. Asistensi Praktikum Fisiologi Tumbuhan jam 8 dan aku baru memutuskan untuk mandi jam 7. Pas buka pintu, eh pintu kamar mandi tertutup dan di depannya ada sepasang sandal jepit hitam. Tandanya di dalam kamar mandi ada Hemas. Jangan coba-coba ngantri deh kalo dia yang ada di kamar mandi. Bisa-bisa nggak ngampus aku. Akhirnya aku mandi di kamar mandi bawah. Untung kamar mandinya lagi kosong, nggak ada yang mandi. Tapi airnya... beh, buteg banget. Abis dipake berendem apa ya, airnya putih semua kena sabun gitu. Jadilah aku mandi “ambil-guyur-ambil-guyur”, maksudnya, ambil satu gayung dari keran, terus guyur, ambil lagi, guyur lagi. Kelamaan nunggu kerannya deh akhirnya. Hrrrh.

Pas sebelum mandi, karena yakin banget aku bakal telat dengan kondisi seperti ini, aku SMS Ani, minta cariin tempat buat aku biar duduk di samping dia. Maklum, kelas baru. Jangan sampe garing sendirian karena belom kenal sama temen yang duduk sebelahan. Jadi mendingan duduk di sebelah orang yang udah dikenal aja. Hehe.

Kalo di Jakarta ibu bilang aku mandinya kayak ratu, disini ternyata ada yang lebih parah dari aku. Pas aku udah selesai mandi dan naik ke atas, pintu kamar mandi masih tertutup dan di depannya masih ada sepasang sandal jepit berwarna hitam, tandanya Hemas masih di kamar mandi. Pas aku sampai di kamar, lihat jam di HP, ternyata aku mandinya 20 menit. Bukankah 20 menit itu sudah tergolong lama? Dan si Hemas mandi sebelum aku mandi, dan belum selesai juga sampai aku sudah selesai mandi! Wew!

Keluar kos jam 8 kurang 15. Isi bensin. Berhubung yang di deket Mirota suka tutup, sedangkan bensinku udah di bawah huruf E, aku putuskan untuk mengisi bensin di Jakal saja. Agak jauh memang, tapi ya udahlah, cari yang udah pasti buka aja deh.

Sampe di pom bensin, motor-motor udah pada ngantri aja rame banget. Aku pun ikut mengantri. Tik tok tik tok tik tok. 5 menitan kemudian, si tukang isi bensinnya bilang, “maaf, habis!” Wah, aku kurang pagi nih berarti datengnya. Ckck. Tanpa berpikir panjang, mengingat bensinku yang sudah di bawah E, artinya “si cantik” BENAR-BENAR butuh makan, aku isi pake pertamax. Di barisan pertamax nggak ada yang ngantri, jadi cepat.

“Berapa, Mbak?” masnya nanya.

“Full.”

“Oke.”

“Eh, 2 liter aja deh,” ralatku.

“Oke.”

Mikir lagi. Emang kalo ngisinya dikit nanti bakalan sempet ngisi lagi? Kalo aku sibuk dan nggak sempet ngisi gimana? Akhirnya...

“Full aja deh, Mas.”

“Jadi full apa 2 liter nih?” masnya bete.

“Full.”

Dan keluarlah itu uang 25 ribu. Padahal biasanya aku isi bensin full nggak nyampe 20 ribu. Uangkuuu... hiks.

Ke kampus. Kirain bakal telat. Ternyata jamku baru 07.58 WIB. Aman. Haha.

Masuk kelas. Si Ani belum datang. Kebalik deh jadinya, aku yang cariin dia tempat, di sebelahku. Aku duduk di sebelah Niken. 8.15, pak Joko, si dosen pun datang. Dimulailah itu asistensi sampe jam 9.

Jam 9 teng. Kuliah Toksikologi. Sebenernya ini mata kuliah semester 6. Tapi berhubung punya kesempatan untuk ngambil di semester ini, ya ambil aja, ngapain buang-buang waktu. Biar semester 6 udah bisa skripsi juga.

Kuliah di ruang 3. Kakak-kakak semester 6 yang juga ikut mata kuliah ini udah kuliah sejak jam 7. Jadi, otomatis kebanyakan tempat duduk sudah menjadi “milik” mereka. Dan kami, yang baru masuk jam 9, duduk di bangku-bangku sisa, yaitu bangku deret pertama, paling depan, oke banget ya.

Kuliah pun dimulai. HP aku taruh di atas meja. Soalnya, hari ini mau ngurus PKMP lagi sama mbak Dian. Takut kalau mbak Dian SMS, daripada nggak kebaca. Selain itu, yang lebih penting, aku nungguin SMS dari seseorang. Tapi nggak dateng juga tuh SMS sampai akhir kuliah. Eh, belakangan aku tau kalo dia lagi nggak punya pulsa. Hiks hiks.

Kuliah pak Arief Nurrochmad ini asik, tapi catatannya banyak banget. -_____-“

Kuliah pun usai, jam 10.40. Mbak Dian ngajak ke Fakultas Kedokteran Hewan ngambil biakan Streptococcus mutans buat uji antimikroba eugenol. Eugenol itu salah satu minyak atsiri yang berasal dari cengkeh. Tapi aku bilang mau makan dulu. Ya iyalah, keroncongan ini di dalem gara-gara belom diisi dari pagi. Terus, mbak Dian bilang, nanti aja ngambilnya jam 1. Jam 11 lagi jamnya istirahat. Sip lah. Pas aku di kantin, mbak Dian lagi makan juga sama teman-temannya. Mbak Dian mau makan di kantin juga ternyata. Hehe.

Selesai makan, krik krik... ngapain ya. Akhirnya pergilah aku ke Mirota Kampus buat beli tisu, serbet, aluminum foil, dan box buat keperluan PKMP. Untung motor udah aku keluarin tadi begitu keluar dari kelas. Soalnya jam 11 pintu gerbang kampus dikunci, pada siap-siap sholat Jum’at satpamnya, baru dibuka lagi jam 1. Jadi selama itu nggak bisa keluar. Makanya, tadi aku ngeluarin motor dulu.

Jam 12.15 udah sampe kos. Udah selesai belanja. Antreannya panjang banget tadi di Mirota. Jadi lama. Zzz. Di kos cuma sempat sholat Zuhur dan tidur-tiduran 15 menitan, terus balik kampus lagi, mau ke KH (Kedokteran Hewan) sama mbak Dian.

Mbak Dian lagi di laboratorium Penelitian di Unit 2. Aku parkir di depan unit 2 buat jemput mbak Dian. Terus, kita keluar dari Farmasi. Di pintu gerbang ada insiden.

Motorku “si cantik”, yang diatasnya ada aku dan mbak Dian, berjalan di belakang sebuah mobil, yang aku lupa nomor polisinya. Kalo inget aku sebuutin disini deh. Hrrh. Persis pas baruuu aja keluar gerbang, itu mobil berhenti. Aku yang jalan di belakangnya pun berhenti. Eh tiba-tiba dia mundur. Aku nggak sempet bergerak. Mana mbak Dian berat, aku nggak kuat dorong ke belakang. Ringsek lah itu bagian depan dari motorku. Untung cuma yang di dekat roda sih, nggak sampe kena lampu segala. Parahnya, si pengemudi mobil yang nabrak motorku tuh cuma ngeliatin aja dari kaca spion, nggak turun, atau basa-basi bilang maaf atau apa gitu. Tapi ya udahlah. Aku sedang baik hari ini. Imannya sedang bagus. Allah tau kok, apa balasan yang pantas buat orang itu. Hoho.

Sampailah aku dan mbak Dian di KH. Di sepanjang jalan dari parkiran ke lab mikrobiologi, kami melewati kandang hewan-hewan. Ada ayam, burung, sapi, dan yang paling bau: kandang kambing. Iyuh.

Singkat cerita Streptococcus mutans nya udah di tangan kami. Kami pun kembali ke farmasi untuk nnyimpen tuh bakteri di kulkas. Terus, abis itu kami diskusi sebentar tentang apa aja yang akan kami kerjakan hari Senin nanti (mbak Bekti ikut diskusi; sedangkan Deni lagi kuliah, nggak ikut diskusi), terus pulang deh. Lelah ~,~

Wednesday, August 4, 2010

Saya Galau. Hahah

Aku nggak tahu perasaan apa ini. Semua yang aku inginkan menjadi kabur. Aku bahkan nggak tahu apakah aku benar-benar menginginkan apa-apa yang sekarang sudah kudapat atau tidak. Terkadang alasanku tak begitu kuat untuk menjelaskan mengapa aku harus dapatkan ini, dapatkan itu. Aku seakan-akan mati rasa. Aku bahkan tak dapat lagi membaca perasaanku sendiri. Apa ini karena rasa ketakutanku lebih besar daripada antusiasmeku untuk mencapai sesuatu? Aku sungguh takut semua yang telah kudapatkan hilang karena alasan-alasan yang tak bisa kumasukkan ke akal sehatku. Seandainya bisa pun akan tetap tak rela. Apa semua manusia yang umurnya 18 tahun merasakan ini? Oh, sungguh tak enak.

Aku juga mengkhawatirkan masa depanku. Berkali-kali bapak bilang, "nanti kamu bikin obat, bapak bukakan pabriknya buat kamu." Bukannya senang, aku malah tegang. Aku percaya bapak bisa. Namun, bagaimana dengan aku? Bahkan aku tidak bisa menerka apakah aku akan bisa atau tidak. Kalau ingat masa depan, aku terlalu takut akan tercampak kesana-kemari. Sulit dibayangkan, bersaing dengan sekian juta sarjana di luar sana untuk mendapatkan sebuah posisi. Tiap kali mengingat hal itu, aku ingin selamanya menjadi mahasiswa, makhluk paling bebas yang pernah ada. Sayangnya, itu tidak mungkin. Orang-orang di sekelilingku sudah semakin menua. Ayahku, tak setegap dulu. Ibuku, wajahnya tak lagi mulus seperti dulu. Tetangga dekat rumahku, ubannya semakin banyak saja dibanding saat terakhir aku melihatnya. Guru bahasa Inggrisku, semakin lelah saja wajahnya. Mereka bisa melaluinya. Dan lambat laun, aku pun akan menghadapi hal yang sama. Orang-orang tua itu, perannya akan digantikan oleh anak-anaknya. Terkadang aku tak rela melihat mereka semakin menua. Aku ingin tetap pada posisi ini : aku sebagai anak, mereka sebagai orang tua. Namun, Tuhan-lah yang punya semuanya. Aku tak bisa berbuat apa-apa untuk menghentikan waktu.

Bandingkan dengan dahulu. Aku begitu percaya diri dengan kemampuanku, dengan semua yang sudah kudapat. Aku yakin sekali dimana posisiku. Bahkan aku dapat berpikir jernih menggunakan hati. Oh, sejak kapan penurunan ini terjadi?

Haah, sepertinya aku harus berdiam dan memikirkan lagi, untuk apa aku hidup. Aku harus melihat lagi tujuan hidupku dengan jelas, kali ini lebih jelas dari yang sudah-sudah. Apa-apa yang harus diperjuangkan, dan apa-apa yang harus dibiarkan berjalan dengan sendirinya. Bahwa Tuhan disana mengawasiku, membolak-balik hatiku, dan setelah itu... dia akan menunjukkan kuasa-Nya dan memberikan yang terbaik untukku. Harus aku pikirkan, sebelum terlambat. Karena sekarang pun, semangat hidupku rasanya mulai menyusut dalam kebingungan.