Did You Know??
Pada hari raya ini, umat Islam berkumpul pada pagi hari dan melakukan shalat Ied bersama-sama di tanah lapang, seperti ketika merayakan Idul Fitri. Setelah shalat, dilakukan penyembelihan hewan kurban, untuk memperingati perintah Allah kepada Nabi Ibrahim yang menyembelih domba sebagai pengganti putranya.
Hari Raya Idul Adha jatuh pada tanggal 10 bulan Dzulhijjah, hari ini jatuh persis 70 hari setelah perayaan Idul Fitri. Hari ini juga beserta hari-hari Tasyrik diharamkan puasa bagi umat Islam.
1. Allah menawarkan pembebasan kita dari api neraka
مَا مِنْ يَوْمٍ أَكْثَرَ مِنْ أَنْ يُعْتِقَ اللهُ فِيْهِ عَبْدًا مِنَ النَّارِ مِنْ يَوْمِ عَرَفَةَ
“Tidak ada hari yang Allah membebaskan hamba-hamba dari api neraka, lebih banyak daripada di hari Arafah.” (HR. Muslim)
2. Hari Nahr dan Hari Tasyrik
Pada bulan Dzulhijjah juga ada hari yang sangat istimewa yang dikenal dengan istilah hari nahr. Yaitu hari kesepuluh di bulan tersebut, di saat kaum muslimin merayakan Idul Adha dan menjalankan shalat Id serta memulai ibadah penyembelihan qurbannya, sementara para jamaah haji menyempurnakan amalan hajinya. Begitu pula hari-hari yang datang setelahnya, yang dikenal dengan istilah hari tasyriq, yaitu hari yang kesebelas, keduabelas, dan ketigabelas. Allah Subhanahu wa Ta’ala mengkhususkan hari-hari tersebut sebagai hari-hari untuk makan, minum, dan berdzikir. Dan hari-hari itulah yang menurut keterangan para ulama adalah hari yang disebutkan dalam firman Allah Subhanahu wa Ta’ala:
وَاذْكُرُوا اللهَ فِي أَيَّامٍ مَعْدُوْدَاتٍ
“Dan berdzikirlah (dengan menyebut) Allah dalam beberapa hari yang berbilang.” (Al-Baqarah: 203)
Dan Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam juga menyebutkan tentang hari-hari tersebut:
أَيَّامُ مِنَى أَيَّامُ أَكْلٍ وَشُرْبٍ وَذِكْرٍ لِلهِ عَزَّ وَجَلَّ
“Hari-hari Mina (hari nahr dan tasyriq) adalah hari-hari makan dan minum serta berdzikir kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala.” (HR. Muslim)
3. Larangan memotong bulu hewan qurban bagi orang yang mengurbankannya
عَنْ أُمِّ سَلَمَةَ أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: إِذَا دَخَلَتِ الْعَشْرُ وَأَرَادَ أَحَدُكُمْ أَنْ يُضَحِّيَ فَلاَ يَمَسَّ مِنْ شَعْرِهِ وَبَشَرِهِ شَيْئًا
Dari Ummu Salamah, Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabada: ”Apabila telah masuk sepuluh (hari pertama bulan Dzulhijjah), salah seorang di antara kalian ingin berqurban, maka janganlah sedikit pun ia menyentuh (memotong) rambut (bulu)nya dan mengupas kulitnya.”
Hadits ini diriwayatkan oleh Al-Imam Ahmad dalam Musnad-nya no. 25269, Al-Imam Muslim no. 1977, Al-Imam An-Nasa`i, 7 hal. 212, Al-Imam Abu Dawud 3/2793, Al-Imam At-Tirmidzi 3/1523, Al-Imam Ibnu Majah 2/3149, Al-Imam Ad-Darimi no. 1866. (CD Program, Syarh An-Nawawi cet. Darul Hadits)
4. Waktu Penyembelihan Adalah Setelah Shalat
hadits Al-Bara` bin ‘Azib radhiyallahu 'anhu:
إِنَّ أَوَّلَ مَا نَبْدَأُ بِهِ فِي يَوْمِنَا هَذَا أَنْ نُصَلِّيَ ثُمَّ نَرْجِعَ فَنَنْحَرَ، مَنْ فَعَلَهُ فَقَدْ أَصَابَ سُنَّتَنَا وَمَنْ ذَبَحَ قَبْلُ فَإِنَّمَا هُوَ لَحْمٌ قَدَّمَهُ لِأَهْلِهِ لَيْسَ مِنَ النُّسُكِ فِي شَيْءٍ
“Sesungguhnya yang pertama kali kita mulai pada hari ini adalah shalat. Kemudian kita pulang lalu menyembelih hewan qurban. Barangsiapa berbuat demikian maka dia telah sesuai dengan sunnah kami, dan barangsiapa yang telah menyembelih sebelumnya maka itu hanyalah daging yang dia persembahkan untuk keluarganya, tidak termasuk ibadah nusuk sedikitpun.” (HR. Al-Bukhari no. 5545 dan Muslim no. 1961/7)
5. Perintah Shalat Digandengkan dengan Perintah Menyembelih Hewan Qurban
Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:
فَصَلِّ لِرَبِّكَ وَانْحَرْ
“Maka dirikanlah shalat karena Rabbmu dan sembelihlah hewan qurban.” (Al-Kautsar: 2)
قُلْ إِنَّ صَلاَتِي وَنُسُكِي وَمَحْيَايَ وَمَمَاتِي لِلهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ. لاَ شَرِيْكَ لَهُ وَبِذَلِكَ أُمِرْتُ وَأَنَا أَوَّلُ الْمُسْلِمِيْنَ
“Katakanlah: ‘Sesungguhnya shalatku, sembelihanku, hidup dan matiku hanyalah untuk Allah, Rabb semesta alam. Tiada sekutu bagi-Nya; dan demikian itulah yang diperintahkan kepadaku dan aku adalah orang yang pertama-tama menyerahkan diri (kepada Allah)’.” (Al-An’am: 162-163)
Allah Subhanahu wa Ta’ala dalam dua ayat di atas menggandengkan ibadah berqurban dengan ibadah shalat yang merupakan rukun Islam kedua.
Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah rahimahullahu sebagaimana dalam Majmu’ Fatawa (16/531-532) ketika menafsirkan ayat kedua surat Al-Kautsar menguraikan: “Allah Subhanahu wa Ta’ala memerintahkan beliau untuk mengumpulkan dua ibadah yang agung ini yaitu shalat dan menyembelih qurban yang menunjukkan sikap taqarrub, tawadhu’, merasa butuh kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala, husnuzhan, keyakinan yang kuat dan ketenangan hati kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala, janji, perintah, serta keutamaan-Nya.”
6. Pusat Perayaan Idul Adha
Pusat perayaan Idul Adha adalah sebuah desa kecil di Arab Saudi yang bernama Mina, dekat Mekkah. Di sini ada tiga tiang batu yang melambangkan Iblis dan harus dilempari batu oleh umat Muslim yang sedang naik Haji.
7. Bahwa Islam Menghargai Hak Hidup Seseorang
Sebagaimana kita ketahui bahwa perintah menyembelih Nabi Ismail ini pada akhirnya digantikan seekor domba. Pesan tersirat dari adegan ini adalah ajaran Islam yang begitu menghargai betapa pentingnya nyawa manusia.
Hal ini senada dengan apa yang digaungkan Imam Syatibi dalam magnum opusnya al Muwafaqot. Menurut Syatibi, satu diantara nilai universal Islam (maqoshid al syari’ah) adalah agama menjaga hak hidup (hifdzu al nafs). Begitu pula dalam ranah fikih, agama mensyari’atkan qishosh, larangan pembunuhan dll. Hal ini mempertegas bahwa Islam benar-benar melindungi hak hidup manusia.
Pelbagai sumber
Wednesday, December 23, 2009
Artikel Idul Adha
Diposkan oleh Ika Kusuma di 8:16 AM 0 komentar
Label: MO things
Ibn Maskawaih,, Orang yang mengasaskan teori evolusi
Ibn Maskawaih atau nama sebenarnya Abu Ali bin Ahmad bin Muhammad bin Yaakub bin Maskawaih merupakan ilmuwan Islam yang terpenting. Walaupun pemikiran falsafahnya tidak banyak dibicarakan tetapi beliau telah mengemukakan berbagai-bagai teori falsafah penting yang menjadi asas kepada pemikiran falsafah tokoh-tokoh selepasnya.
Pandangannya mengenai manusia dan perkembangan masyarakat bukan
sahaja menjadi asas pemikiran kepada ilmuwan Islam yang lain seperti
Ibnu Khaldun dan Jamaluddin Al Rini tetapi juga para sarjana Barat.
Teori evolusi yang dikemukakannya telah dijadikan sebagai bahan kajian
oleh Charles Darwin yang kemudian menerbitkan buku Origin of
Species mengenai kejadian dan asal-usul manusia. Dalam buku
tersebut, Charles Darwin telah menyatakan bahwa manusia
berkembang secara evolusi dari spesies yang paling
ringkas menjadi yang kompleks. Perkembangan itu berlaku secara
perlahan-lahan dalam waktu yang lama.
Hasil daripada kajian dan pemerhatiannya terhadap pelbagai spesies
dan fosil di beberapa benua, beliau akhirnya membuat
keputusan bahwa manusia sebenarnya berasal dari beruk melalui
proses evolusi. Teori evolusinya telah menjadi kontroversi dan
mendapat tentangan dari pihak gereja kerana dia menafikan
peranan Tuhan dalam menjadikan kehidupan di muka bumi ini.
Namun begitu, teori tersebut telah menjadikan Darwin terkenal dan
dianggap sebagai pelopor teori evolusi yang digunakan oleh para
sarjana dalam bidang antropologi dan sosiologi dalam menguraikan
sejarah serta perjalanan manusia serta perkembangan masyarakat.
Padahal teori evolusi telah lama digunakan oleh Ibn Maskawaih dalam
kajiannya mengenai perabadan manusia. Menurutnya, kecerdikan
manusia tidaklah melebihi kepintaran yang dimiliki oleh beruk. Tetapi
manusia menjadi lebih cerdik karena pengalaman yang mereka peroleh
dalam kehidupan bermasyarakat.
Bagi Ibn Maskawaih, manusia itu ialah sebuah dunia yang kecil dan
padanya terdapat gambaran mengenai segala yang ada di dunia ini.
Setiap manusia mempunyai peranannya yang tersendiri sama ada
sebagai individu ataupun anggota masyarakat. Pendapat beliau ini
menepati "Teori Fungsi" yang dikemukakan oleh seorang ahli sosiologi
Perancis yang bernama Auguste Comte.
Sekiranya setiap anggota masyarakat melaksanakan peranan dan
fungsinya maka masyarakat itu akan berada dalam keadaan yang stabil
dan bersatu padu serta membolehkannya berkembang dengan teratur.
Manakala sebarang gangguan terhadap fungsi itu akan mengakibatkan
berlakunya konflik dan pergolakan dalam masyarakat. Secara tidak
langsung akan membawa keruntuhan kepada masyarakat tersebut.
Jadi, tidak keterlaluan kalau di katakan bahwa Ibn Maskawaih juga
merupakan pengasas Teori Fungsi yang digunakan oleh para
penganalisis sosial yang menjalankan kajian tentang masyarakat kuno
dan moden.
Banyak teori telah dihasilkan oleh beliau dan tidak terbatas kepada
bidang falsafah semata-mata. Beliau menulis berbagai kitab yang
membicarakan pelbagai persoalan. Antaranya Kitab al-Fauz al-Saghir
yang menumpukan pembicaraan kepada persoalan yang berkaitan
dengan metafisik yaitu tentang Allah, kerasulan dan jiwa.
Kebanyakan pandangannya mengenai perkara ini disesuaikan dari
pandangan ahli falsafah Yunani. Kesan pemikiran falsafah Yunani
terhadap Ibn Muskawaih dapat dilihat pada pandangannya mengenai
jiwa. Saat mengungkap persoalan ini, beliau menyatakan bahwa
jiwa merupakan roh yang berbeda dengan tubuh dan tidak mungkin
dapat dilihat dan disentuh oleh pancaindera. Baginya jiwa sesuatu yang
dapat menerima dua perkara pada satu waktu yang sama seperti
keadaan hitam dan putih pada satu waktu.
Beliau juga telah mengemukakan teori akhlak dalam kitabnya yang
berjudul kitab Tahzib al-Akhlaq. Dalam kitab itu, beliau menyebut
bahwa akhlak ialah lahirnya perbuatan-perbuatan baik yang
dilakukan secara teratur. Oleh sebab itu, akhlak yang baik hanya akan lahir
daripada jiwa yang bersih dan begitu juga sebaliknya.
Untuk mendapat jiwa yang bersih maka anak-anak sejak kecil harus
ditanamkan dengan nilai-nilai yang baik. Nilai-nilai buruk pula hanya
akan mengganggu proses pertumbuhan dan menyebabkan mereka
membesar tanpa menghiraukan tatasusila. Anak-anak perlu dilatih pada
peringkat awal pertumbuhan supaya bersikap dan bertindak mengikuti
nilai-nilai ini agar sejalan dengan diri serta sanubari mereka.
Ibn Maskawaih turut menulis beberapa buah kitab yang lain seperti
al'Adwiah al-Mufra-dah tentang obat-obatan, Uns al'Farid sebuah
antologi cerpen, Tajarub al'Umarn sebuah catatan mengenai sejarah,
al-Tabikh mengenai kaedah memasak, al'Asyribah yang membicarakan
tentang minuman, al'Fauz al-Kabir, dan Tajrib al'Um.
Berdasarkan banyak kitab yang ditulisnya maka ketokohannya sebagai
ahli falsafah dan pengarang tidak dapat dinafikan. Ide dan
pandangannya jelas menjadikannya sebagai salah
seorang ilmuwan serta sarjana Islam yang tiada bandingannya pada
zamannya. Sesungguhnya Ibn Maskawaih yang dilahirkan pada 330H
(941M) di Kota Rhages itu akan terus dikenang sebagai seorang ahli
falsafah yang kaya dengan teori-teorinya.
Sumber : http://alhakelantan.tripod.com/tokoh/id14.html
Diposkan oleh Ika Kusuma di 8:11 AM 0 komentar
Label: MO things
